Indramayu, Ciayumajakuning.com – Fajar Romadhon, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Sayid Sabiq Indramayu, tampil sebagai salah satu presenter dalam Diseminasi Kelitbangan Kabupaten Indramayu Tahun 2025 yang digelar BAPPEDA–LITBANG Kabupaten Indramayu pada Rabu, 26 November 2025. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan aparatur sipil negara dari berbagai institusi untuk membahas isu-isu strategis berbasis hasil penelitian.
Dalam pemaparannya, Fajar Romadhon menyampaikan hasil kajian berjudul Fenomena Brain Rot pada Siswa Generasi Alpha di Indramayu. Penelitian tersebut mengungkap gejala penurunan kemampuan kognitif dan stabilitas mental siswa sekolah dasar akibat tingginya konsumsi konten digital yang cepat, dangkal, repetitif, dan minim muatan pendidikan. Secara global, fenomena brain rot bahkan telah ditetapkan sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University.
Fajar mengungkapkan bahwa siswa Generasi Alpha di Indramayu menunjukkan kecenderungan sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, cepat kehilangan minat belajar, serta lebih memilih konten visual singkat seperti TikTok dan video pendek lainnya ketimbang kegiatan literasi mendalam. Temuan para guru SD dan MI yang terlibat dalam penelitian turut memperkuat kesimpulan bahwa paparan digital berlebihan berpengaruh nyata terhadap proses belajar, perilaku, dan capaian akademik siswa.
Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologi dan ditopang kajian literatur ini juga mengidentifikasi berbagai faktor pemicu brain rot. Di antaranya perkembangan teknologi yang begitu cepat, minimnya pendampingan orang tua, dinamika pergaulan sebaya, hingga kondisi psikologis anak. Dampaknya terlihat pada menurunnya motivasi belajar, prestasi akademik, hingga pola interaksi sosial yang cenderung mengikuti gaya komunikasi di media sosial yang serba singkat.
Pada bagian rekomendasi, Fajar menekankan perlunya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas untuk menerapkan digital detox, meningkatkan literasi digital, membatasi durasi penggunaan gawai, serta mendampingi anak dalam memilih konten yang tepat sesuai usia. Langkah-langkah ini dinilai penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat bagi tumbuh kembang kognitif dan emosional Generasi Alpha di Indramayu.
Presentasi tersebut menjadi sorotan karena mengangkat isu strategis yang sangat relevan dengan perkembangan pendidikan di daerah. Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemangku kebijakan, tenaga pendidik, dan masyarakat dalam menyikapi tantangan digital terhadap perkembangan anak.
Hasil kajian lengkap dapat diakses melalui tautan berikut: https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/34269










